Louis van Gaal telah mengeluarkan uang 150 juta pounds untuk mengarungi musim 2014-2015. Ia ingin membangun kembali tim keropos yang diwariskan oleh David Moyes (yang sebenarnya sudah terlihat sebelum Sir Alex Ferguson pensiun). Harapan untuk kebangkitan Setan Merah pun tinggi.
Nama-nama tenar macam Angel Di Maria, Radamel Falcao, Ander Herrera, Marcos Rojo, dan Daley Blind didatangkan ke Old Trafford. Namun, apa yang terjadi justru kebalikan dari ekspektasi fans. Setelah kalah 5-3 dari Leicester pada 21 September 2014, Manchester United memulai musim dengan catatan terburuk daripada saat masih diarsiteki David Moyes.
Di bawah asuhan Moyes, The Red Devils mengantongi tujuh poin dari lima pertandingan awal Premier League. Selain itu, Manchester United menjuarai Community Shield 2013-2014, memenangi pertandingan di Liga Champions dan Capital One. Sementara itu, dalam jumlah pertandingan yang sama, Van Gaal hanya bisa membawa United meraih lima poin, dan kalah 4-0 dari MK Dons di Capital One.
(Klasemen era Louis van Gaal)
(Klasemen era David Moyes)
Perbandingan awal tersebut bisa saja berubah dalam perjalanan liga musim ini. Tetapi, fakta ini memang cukup mengkhawatirkan. Louis van Gaal memang memiliki catatan lebih hebat daripada David Moyes dari karir manajerial, tetapi situasi United saat ini memang membingungkan. Kadang garang, tapi lebih sering labil, terutama di sisi pertahanan.
PERBANDINGAN VAN GAAL DAN MOYES
Transfer
Selama jendela transfer musim panas lalu 2013, David Moyes percaya bahwa Ed Woodward akan menyokongnya untuk mendaratkan pemain tengah kelas dunia. Sebut saja Cesc Fabregas yang menjadi target utama. Nama Thiago Alcantara dan Ander Herrera juga disebut-sebut akan didatangkan. Namun, akhirnya hanya mendatangkan satu gelandang dari Everton dengan harga 27,5 juta pounds (dengan klausul tambahan 4 juta pounds), Marouane Fellaini, pada hari deadline transfer. Sementara itu, kesepakatan dengan Fabio Coentrao dibatalkan pada menjelang batas transfer. Juan Mata kemudian tiba pada bulan Januari dengan harga 37,1 juta pounds, tapi hanya bermain sebanyak 12 pertandingan di bawah Moyes.
Sebaliknya, Van Gaal seperti mendapat keleluasaan membeli pemain. Dana sebesar 60 juta pounds digelontorkan untuk mendatangkan Luke Shaw dan Ander Herrera. United kembali mengeluarkan uang 16 juta pounds untuk Marcos Rojo, 14 juta pounds untuk Daley Blind, dan rekor transfer Inggris 60 juta pounds untuk mengeluarkan Angel di Maria dari Real Madrid. Itu ditambah 6 juta pounds untuk meminjam Radamel Falcao dari AS Monaco dengan opsi permanen di akhir musim.
Tetapi, target lainnya gagal didatangkan. Sebut saja Arturo Vidal, Kevin Strootman, Mats Hummels. Nama terakhir sangat dibutuhkan Van Gaal mengingat United ditinggal dua bek senior mereka, yakni Rio Ferdinand (pergi ke QPR) dan Nemanja Vidic (bergabung ke Inter Milan).
Taktik
Formasi klasik 4-4-2 adalah satu-satunya strategi yang dipakai Moyes di lima pertandingan awal liga. Yakni, dua striker, dua sayap, dua gelandang tengah, dan empat bek sejajar. Itu adalah sistem yang dipakai Sir Alex Ferguson untuk membangun kebesaran Manchester United. Di Everton, Moyes lebih memilih striker tunggal sebagai target man, sementara satu striker lagi lebih melebar. Namun, itu tidak memungkinkan dipakai di United. Buktinya terlihat saat United kalah 4-1 dari Manchester City.
Di era Van Gaal, ada dua formasi yang dipakai dalam lima pertandingan pertama liga. Dia menerapkan formasi yang cukup asing bagi United, yakni 3-5-2. Formasi itu dipakai setelah Van Gaal sukses membawa Belanda melaju ke perempat final Piala Dunia 2014 dengan formasi yang sama. Namun, formasi itu tidak berhasil diterapkan di United. Setan Merah tak pernah menang dengan formasi itu.
Saat melawan Queens Park Rangers, 14 September 2014, Blind yang sejatinya bek ditempatkan sebagai gelandang jangkar dalam formasi baru. Yakni, formasi berlian 4-3-1-2 atau 4-1-2-1-2. Ander Herrera dan Angel Di Maria membantu pemain nomor posisi 10 Juan Mata untuk melayani striker Robin van Persie dan Wayne Rooney. Hasilnya menggembirakan. United menang meyakinkan 4-0. Namun, dengan formasi yang sama, United juga kalah menyakitkan 5-3 dari tim promosi Leicester City. Pertahanan masih menjadi celah yang harus ditambal Van Gaal. Sepertinya Van Gaal akan segera bisa mengatasinya jika melihat sejarah dia selama menjadi manajer.
Pergantian Pemain
Bagian dari masalah Moyes, menurut pandangan fans, adalah strategi pergantian pemain selama pertandingan. Dia dinilai telat dalam pergantian pemain saat dalam posisi tertinggal. Hanya Tom Cleverley dikirim masuk dalam kekalahan di Etihad.
Van Gaal juga belum bisa mengatasi masalah dari pemain cadangan. Nani yang menggantikan Javier Hernandez dan Fellaini untuk Herrera saat kalah melawan Swansea tidak bekerja dengan baik. Saat melawan Leicester, kita bisa beramsumsi bahwa Angel Di Mariah kelelahan hingga harus ditarik keluar dan digantikan Juan Mata saat skor imbang 3-3. Itu bisa dinilai sebagai taktik aneh. Di sini, Van Gaal jelas ingin mencari formasi terbaik.
Hal ini tak terbantahkan, bahwa Moyes mendapat jadwal pertandingan yang keras daripada Van Gaal. Musim lalu, di tiga pertandingan awal United harus berhadapan dengan Liverpool, Chelsea, dan City. Dua jadwal lainnya terbilang mudah, yakni melawan Swansea dan tim promosi Crystal Palace (di mana keduanya dimenangi United). Memasukkan tujuh gol dan kemasukan enam gol.
Jadwal pertandingan Van Gaal di awal musim lebih mudah, yakni melawan Swansea dan Sunderland di dua laga awal. Kemudian melawan Burnley, QPR, dan Leicester dengan mengemas sembilan gol dan kemasukan delapan gol.
Komentar di Media
Wilayah yang menjadi parameter perbedaan yang mencolok adalah di depan Media. Moyes seperti tidak nyaman mendapat sorotan dan kritikan dari media yang begitu besar sebagai manajer United. Sebaliknya, Van Gaal begitu percaya diri di hadapan media.
Dalam setiap wawancara menanggapi kekalahan atau keputusan wasit, Moyes bisa dibilang sangat tenang. Tak ada komentar tajam sebagaimana yang pernah dilakukan Sir Alex Ferguson. Meski begitu, Moyes tetap mengkritik wasit sebagai biang kekalahan.
Bandingkan dengan Van Gaal. Dia menolak menyalahkan wasit Mark Clattenburg selama kekalahan dari Leicester pada hari Minggu. “Aku tidak tahu apakah itu penalti, tapi kita harus melihat diri kita sendiri karena kami membuat kesalahan besar sebagai sebuah tim,” katanya.



0 comments:
Posting Komentar